![]() |
| Aksi protes di Makassar terkait penyebutan Prabowo 'Londo Ireng' kepada Wartawan, LSM. (Foto: Opsi.id). |
Makassar, Bugissulsel.id – Sejumlah organisasi masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa memprotes pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah "londo ireng" terhadap wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Aksi berlangsung di flyover persimpangan Jalan Urip Sumoharjo-Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/7) kemarin.
Massa membentangkan spanduk bertuliskan "Makassar Bersuara. Kami Muak, Prabowo" sebagai bentuk protes atas pernyataan tersebut.
Wakil Kepala Divisi Advokasi LBH Makassar, Mirayayi Amin, mengatakan penyebutan "londo ireng" muncul setelah adanya kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, program tersebut belum memberikan manfaat bagi sebagian besar masyarakat.
"MBG tidak menyejahterakan kebanyakan orang. Hanya menguntungkan segelintir orang," kata Mira dalam orasinya, seperti dilansir dari Fajar.co.id, Rabu (29/7).
Dia menilai istilah "londo ireng" secara historis merujuk pada pengkhianat bangsa , sehingga penyematan istilah tersebut kepada pihak yang menyampaikan kritik merupakan bentuk stigmatisasi.
"Ini menjadi salah satu titik terendah sebagai warga negara Indonesia yang kritis," ujarnya.
Mira mengatakan kritik yang disampaikan masyarakat sipil seharusnya dijawab dengan solusi, bukan dengan pelabelan.
"Ketika kita mengkritik malah diberikan cap londo ireng. Bukannya menghadirkan solusi, malah menstigmatisasi," ungkapnya.
Ia mengaku masyarakat mulai jenuh dengan berbagai kebijakan dan pernyataan pejabat pemerintah.
"Hari ini, dari Makassar, kami sudah mulai muak," pungkasnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Sahrul Ramadan, juga menilai penyebutan "londo ireng" dan "antek asing" terhadap jurnalis, pengamat, maupun LSM merupakan pelabelan yang tidak tepat.
"Apa yang sesungguhnya disampaikan pejabat negara mengenai londo ireng, antek asing, adalah sesuatu yang tidak benar," kata Sahrul dalam orasinya.
Menurut Sahrul, selama ini jurnalis, pengamat, dan organisasi masyarakat sipil berada di garis depan memperjuangkan hak-hak masyarakat.
"Selama ini kami bergelut melawan penindasan, melawan korporasi, melawan elite, ketika warga dan masyarakat sipil berjuang merebut ruang hidupnya yang diambil oleh penguasa," ujarnya.
Ia menegaskan jurnalis bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik dan berkewajiban menyampaikan informasi yang menjadi kepentingan publik.
"Jurnalis selama ini bekerja berdasarkan kode etik dan perilaku. Artinya, sesuatu yang bersifat publik seharusnya diungkap kepada publik," pungkasnya.
Aksi tersebut diikuti AJI Makassar, LBH Makassar, Walhi Sulsel, LBH Pers Makassar, SP Anging Mammiri, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, warga terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel, Aliansi Gerakan Agraria (AGRA) Sulsel, jurnalis lepas, pers mahasiswa, serta mahasiswa.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (23/7) lalu.
Mulanya, Prabowo mengatakan telah menginstruksikan perbaikan lebih dari 100.000 sekolah pada 2027.
"Tahun 2027, saya instruksikan harus lebih dari 100.000 sekolah yang sekian belas tahun tidak disentuh," kata Prabowo.
Namun, menurutnya, masih ada media yang lebih memilih menyoroti sekolah yang belum diperbaiki dibandingkan sekolah yang telah direnovasi.
"Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama," ujarnya.
Meski demikian, Prabowo tidak menyebut media yang dimaksud.
"Aduh, kita enggak ngerti. Saya enggak sebut media mana itu, pada saatnya akan saya sebut," imbuhnya.
Prabowo menegaskan Indonesia merupakan negara demokrasi dan dirinya tidak antikritik.
"Kalian sudah tahu kita negara demokrasi, kita tidak antikritik, tapi kita bukan anak kecil," katanya.
Meski demikian, Prabowo menilai masih ada pihak yang lebih memilih mengabdi kepada bangsa lain. Kelompok tersebut kemudian ia sebut sebagai "londo ireng".
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng," ungkapnya.
Menurut Prabowo, jika pada masa lalu istilah itu merujuk pada pihak yang bersekutu dengan Belanda melawan bangsanya sendiri, kini istilah tersebut, menurutnya, hadir dalam profesi tertentu.
"Yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya sekarang pakai baju lain, wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," paparnya.
Prabowo kemudian mempertanyakan sumber pendanaan pihak-pihak yang dimaksud.
"Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa? Cari pekerjaan susah. Kita tahu, kan," ujarnya.
Ia juga menilai terdapat upaya membangun narasi bahwa Indonesia akan mengalami kemunduran. Namun, menurutnya, hal itu tidak terbukti.
"Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk membuat kita goyah. Indonesia kolaps. Bulan April lewat enggak kolaps, Mei lewat enggak kolaps, bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ucapnya.
Editor: A.Cakra/Red* |


