Bugissulsel

akurat dan terpercaya

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates






    BNN Sebut Konflik Kartel di Meksiko Ubah Peta Peredaran Narkotika ke Indonesia

    Bugissulsel.id
    25 Februari 2026, 05.54 WIB Last Updated 2026-02-24T22:01:22Z

    Kepala BNN, Komjen Pol Suyudi Ario. (Foto: tvOnenews.com/Rika Pangesti).
    Jakarta, Bugissulsel.id – Konflik antar kartel narkoba yang terjadi di Meksiko berdampak pada dinamika rantai pasok narkotika global, termasuk ke Indonesia, menurut Badan Narkotika Nasional (BNN).

    Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto mengatakan perubahan situasi di kawasan Amerika Latin mendorong jaringan internasional menyesuaikan jalur distribusi agar tetap aman dan efisien secara ekonomi.

    “Konflik kartel narkoba di Meksiko sedikit banyak berpengaruh terhadap rantai pasok narkotika di Indonesia,” kata Suyudi, seperti dilansir dari Suara.com, Selasa (24/2) malam.

    Ia menjelaskan, pergeseran peta konflik tidak serta-merta menghentikan suplai narkotika.

    Jaringan peredaran gelap, kata dia, cenderung mencari alternatif rute yang dinilai paling ekonomis dan aman untuk mempertahankan distribusi ke pasar tujuan, termasuk Indonesia.

    BNN mencatat pasokan narkotika ke Indonesia selama ini didominasi tiga poros jaringan internasional, yakni Golden Triangle (Segitiga Emas), Golden Crescent (Bulan Sabit Emas), dan Golden Peacock.

    Golden Triangle yang meliputi Myanmar, Thailand, dan Laos dikenal sebagai salah satu pusat produksi metamfetamin terbesar di Asia Tenggara. 

    Sementara Golden Crescent yang mencakup Afghanistan, Iran, dan Pakistan merupakan kawasan utama produksi opium dan heroin dunia.

    Sementara, Golden Peacock merujuk pada jaringan Amerika Selatan, khususnya Brasil dan Meksiko, yang memasok kokain serta metamfetamin.

    Lebih lanjut, BNN mengidentifikasi adanya keterkaitan Kartel Sinaloa dalam peredaran narkotika di Indonesia. 

    Kartel tersebut disebut, lanjut BNN, memanfaatkan rute internasional yang kompleks, terutama melalui jalur laut.

    Indonesia sebagai negara kepulauan dinilai memiliki sejumlah titik rawan di perbatasan maritim yang berpotensi dimanfaatkan sebagai jalur penyelundupan. 

    Selain jalur tidak resmi, pelaku juga menggunakan pelabuhan dan bandara dengan modus penyamaran, antara lain menyembunyikan narkotika dalam kemasan produk legal atau mengirimnya sebagai bahan baku kimia.

    BNN menyebut Narkotika Jenis Baru (New Psychoactive Substances/NPS) serta bahan baku metamfetamin dan fentanil banyak dipasok dari Meksiko dan Tiongkok.

    Meski dikendalikan jaringan internasional, operasional distribusi di dalam negeri tetap melibatkan sindikat lokal.

    “Kartel internasional tidak beroperasi langsung di lapangan Indonesia, melainkan bekerja sama dengan sindikat dan jaringan nasional,” ujar Suyudi.

    Sepanjang 2024, BNN mengungkap 27 jaringan narkoba, beberapa di antaranya terhubung dengan jaringan Meksiko. Salah satu kasus besar yang diungkap yakni jaringan Gregor Haas yang diduga memiliki keterkaitan dengan Kartel Sinaloa.

    BNN menyatakan akan terus memperketat pengawasan di jalur laut maupun pintu masuk resmi guna mengantisipasi pergeseran rute penyelundupan narkotika internasional.

    Editor: A.Cakra
    Sumber: Suara.com
    Komentar

    Tampilkan

    • BNN Sebut Konflik Kartel di Meksiko Ubah Peta Peredaran Narkotika ke Indonesia
    • 0

    menu atas