![]() |
| Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd. Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau. |
Bugissulsel.id - Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender hijriah atau ritual tahunan yang diulang tanpa makna. Ia adalah madrasah ruhani, ruang pendidikan batin yang Allah bentangkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada fitrah. Di bulan inilah shalat menemukan momentumnya yang paling dalam, dan khusyuk menemukan tanah suburnya.
Dalam tradisi tasawuf yang dirumuskan oleh ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, khusyuk dipahami sebagai hadirnya hati secara total di hadapan Allah. Ia bukan sekadar diamnya tubuh, tetapi tunduknya jiwa. Ramadhan menghadirkan ekosistem spiritual yang memungkinkan kualitas ini tumbuh. Lapar dan dahaga bukan hanya latihan fisik, melainkan cara Ilahi untuk melembutkan hati yang keras oleh rutinitas dunia.
Di luar Ramadhan, kita kerap shalat dalam keadaan tergesa-gesa, pikiran terpecah antara urusan pekerjaan, target ekonomi, dan hiruk-pikuk media sosial. Namun ketika Ramadhan tiba, ritme kehidupan melambat. Sahur mengajarkan keheningan sebelum fajar. Tarawih menghadirkan kebersamaan yang khidmat. Tadarus menyirami jiwa dengan kalam Ilahi. Semua ini membentuk atmosfer yang kondusif bagi lahirnya khusyuk.
Khusyuk lahir dari kesadaran akan keagungan Allah dan kesadaran akan kelemahan diri. Puasa menyingkapkan betapa rapuhnya manusia. Hanya dengan menahan makan dan minum beberapa jam saja, tubuh melemah.
Dari sini tumbuh rasa tawadhu dan rasa malu kepada Allah. Rasa malu inilah yang dalam tasawuf menjadi salah satu pilar khusyuk: malu karena dosa, malu karena kelalaian, malu karena ibadah yang belum sempurna.
Ramadhan juga mempertemukan harap dan takut secara lebih intens. Setiap doa selepas shalat dipenuhi harap akan ampunan dan rahmat. Setiap malam kita takut jika tidak termasuk hamba yang dibebaskan dari api neraka. Perpaduan dua rasa ini, sebagaimana dijelaskan oleh para sufi, adalah keseimbangan batin yang melahirkan kedalaman spiritual.
Pada puncaknya, khusyuk dalam Ramadhan bermuara pada muraqabah kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat dan mengetahui keadaan hamba-Nya.
Malam-malam terakhir Ramadhan, terutama ketika umat Islam memburu Lailatul Qadar, menjadi momentum intensifikasi kesadaran ini. Shalat bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa yang merindukan kedekatan. Sujud menjadi tangis sunyi, doa menjadi dialog yang intim.
Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Junaid al-Baghdadi, inti tasawuf adalah memurnikan hati dari selain Allah. Ramadhan menyediakan ruang pemurnian itu. Ia membersihkan debu-debu dunia yang menempel pada hati sepanjang tahun. Jika di luar Ramadhan kita mudah terjebak pada formalitas ibadah, maka Ramadhan mengajarkan esensi: bahwa shalat adalah perjumpaan, bukan sekadar gerakan.
Sebagai pendidik dan pegiat bahasa serta budaya, saya melihat Ramadhan juga sebagai momentum pembentukan karakter kolektif. Khusyuk dalam shalat akan melahirkan kejujuran dalam tindakan, kesantunan dalam tutur kata, dan kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Di Provinsi Kepulauan Riau yang kaya dengan khazanah Melayu, nilai khusyuk sejalan dengan falsafah “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Spiritualitas bukan hanya urusan pribadi, tetapi fondasi peradaban.
Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak berlalu tanpa transformasi. Jika setelah Ramadhan shalat kita tetap tergesa-gesa dan hati tetap lalai, maka kita baru menyentuh kulitnya, belum menyelami isinya. Khusyuk adalah buah dari latihan yang berulang. Ia memerlukan muhasabah, dzikir, dan kesungguhan memperbaiki diri.
Ramadhan datang setiap tahun, tetapi kesempatan memperdalam khusyuk belum tentu terulang dengan kualitas yang sama. Maka mari kita jadikan bulan penuh berkah ini sebagai titik balik. Bukan hanya memperbanyak ibadah secara kuantitatif, tetapi memperdalamnya secara kualitatif. Sebab pada akhirnya, yang mengangkat derajat seorang hamba bukanlah banyaknya gerakan, melainkan kedalaman perjumpaan.
Ramadhan adalah undangan Ilahi. Dan khusyuk adalah jawaban terbaik atas undangan itu.
Laporan: Nursalim |


