Makassar, Bugissulsel.id – Perwakilan DPC LSABS Parewa Bessi Kabupaten Soppeng menghadiri kegiatan Mattompang dan diskusi budaya bersama Fakultas Seni Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (17/4).
Kegiatan bertema “Menyentuh Ruang Dialog: Mattompang dan Paseng yang Tidak Pernah Padam” tersebut menjadi wadah refleksi sekaligus dialog antara pelaku budaya dan akademisi dalam menjaga warisan tradisi.
Dalam kegiatan itu, Mattompang dimaknai tidak sekadar sebagai ritual pembersihan pusaka, tetapi juga sebagai simbol pertemuan antara nilai-nilai kearifan masa lalu dengan kesadaran masa kini.
Tradisi ini juga dianggap sebagai upaya menjaga keberlanjutan Pappaseng atau pesan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Kehadiran LSABS Parewa Bessi Soppeng disebut sebagai bgian dari upaya mempererat silaturahmi antar pecinta pusaka dan budaya di Sulawesi Selatan.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh DPP LSABS Parewa Bessi dan DPC LSABS Parewa Bessi Makassar.
Wakil Ketua DPC LSABS Parewa Bessi Soppeng, Andi Mangkona, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen pelestarian budaya.
“Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga pusaka dan budaya,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara komunitas budaya dan institusi pendidikan dapat terus terjalin guna mendorong generasi muda lebih peduli terhadap budaya daerah.
“Semoga diskusi ini menjadi awal untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Dia menambahkan generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya.
“Anak muda merupakan tonggak pelestarian budaya yang harus terus didorong untuk mengenal dan menjaga warisan leluhur,” katanya.
Penulis: A.Cakra |


