![]() |
| Keluarga dan petugas menjemput korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di dermaga Pulau Jampea, Kamis (16/7/2026). (Foto: Dok/Ist/Polres Selayar). |
Selayar, Bugissulsel.id – Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa dilaporkan tenggelam di perairan Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Peristiwa nahas tersebut memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan Basarnas, TNI AL, Polair, BPBD, hingga nelayan setempat.
Hingga Kamis (16/7) malam, sebanyak 47 orang berhasil ditemukan selamat.
Satu penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara 23 orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan pencarian terhadap korban yang hilang masih terus dilakukan.
"Ini menjadi atensi kami. Kapal pencarian sedang bekerja, sedang pencarian bersama Basarnas Makassar," ujar Andi Sudirman dalam keterangannya.
Data terbaru Basarnas menunjukkan jumlah penumpang dan awak kapal mencapai 70 orang.
Angka tersebut diperoleh setelah dilakukan pendataan ulang dan verifikasi dengan pihak keluarga korban.
Sebelumnya, tim SAR menerima laporan awal yang menyebut jumlah penumpang hanya sekitar 50 orang.
Pencarian korban melibatkan Tim Rescue Pos SAR Selayar, Basarnas Makassar, TNI AL, KRI Marlin 877, KM Harapan Kita, Syahbandar, SROP Selayar, Polair, BPBD hingga armada nelayan.
Andi Sudirman berharap seluruh korban yang masih hilang dapat segera ditemukan dalam kondisi terbaik.
"Kami berharap seluruh korban yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Kita berharap proses pencarian berjalan lancar serta seluruh personel selalu diberikan keselamatan dalam menjalankan tugas," katanya.
Sementara itu, puluhan korban yang berhasil diselamatkan telah dievakuasi ke Pelabuhan Jampea.
Korban meninggal dunia juga telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan KLM Nurul Salsa berangkat dari Pelabuhan Jampea, Kecamatan Pasimasunggu menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu (15/7) pagi.
Perjalanan awal berlangsung normal tanpa kendala berarti.
Namun saat berada di tengah perairan, kapal diterpa cuaca buruk disertai gelombang tinggi dan angin kencang.
Dalam situasi tersebut, mesin kapal mengalami kerusakan hingga tidak dapat beroperasi.
Penumpang dan awak kapal kemudian berupaya meminta bantuan setelah kapal tidak lagi bisa bergerak.
"Para penumpang berusaha minta tolong saat mesin kapal mati. Tapi karena cuaca ekstrem sehingga sulit upaya penyelamatan dengan cepat oleh nelayan setempat," kata Siujung, keluarga salah seorang korban, dikutip Kamis malam.
Editor: A.Cakra/Red* |


