![]() |
| Personel Brimob Polda Sulsel saat apel di Lapangan Apel Markas Komando Sat Brimob Polda Sulsel, Jalan KS Tubun, Makassar, Jumat (26/12). (Foto: Ist). |
Makassar, Bugissulsel.id – Polda Sulsel mengerahkan sebanyak 100 personel Satuan Brigade Mobil (Sat Brimob) untuk membantu penanganan pasca bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera, khususnya Provinsi Aceh.
Pengiriman personel tersebut merupakan bentuk dukungan Polri terhadap kebijakan pemerintah dalam operasi kemanusiaan guna mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
Pemberangkatan ratusan personel Brimob itu diawali dengan apel kesiapan yang digelar di Lapangan Apel Markas Komando Sat Brimob Polda Sulsel, Jalan KS Tubun, Makassar, Jumat (26/12).
Apel dipimpin langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, yang dihadiri Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Nasri, Irwasda Polda Sulsel, Dansat Brimob Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Ridwan, sejumlah PJU Polda Sulsel.
Tidak hanya itu, hadir juga Kabag Ops Sat Brimob Polda Sulsel AKBP Nur Ichsan, dan beberapa komandan batalyon Satbrimob.
Dalam keterangannya usai apel, Irjen Pol Djuhandhani mengatakan, bahwa kondisi pasca bencana di Sumatera, khususnya Aceh, membutuhkan dukungan berbagai unsur kekuatan negara untuk membantu masyarakat terdampak.
“Wilayah Sumatera, khususnya Aceh, pascabencana memerlukan berbagai kekuatan untuk membantu masyarakat, baik dalam pemulihan sarana dan prasarana, pembersihan bangunan pasca banjir, maupun pemulihan moril warga,” kata Djuhandhani.
Ia menjelaskan, setibanya di Aceh, personel Brimob Polda Sulsel akan menunggu pembagian tugas dari Korps Brimob Polri.
Lokasi penugasan, kata dia, akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan dan kemungkinan ditempatkan di Aceh Tamiang.
Menurut Djuhandhani, pengiriman personel tersebut merupakan wujud kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah.
“Penugasan ini adalah bentuk kehadiran pemerintah melalui Polri yang selalu siap mendukung kebijakan pemerintah dalam penanganan bencana,” ujarnya.
Djuhandhani juga menekankan pentingnya keselamatan personel selama menjalankan tugas di wilayah pascabencana yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi.
“Kepada seluruh personel saya berpesan agar selalu berhati-hati. Meskipun tugas ini bersifat kemanusiaan, tetap ada potensi bahaya yang harus diwaspadai,” katanya.
Ia juga meminta personel Brimob untuk terus bersinergi dengan TNI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan di lokasi penugasan agar bantuan yang diberikan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Sementara itu, Dansat Brimob Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Ridwan mengatakan, bahwa personel yang diberangkatkan memiliki keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam penanganan pascabencana.
“Personel yang kami kerahkan memiliki kemampuan di bidang pertukangan dan konstruksi bangunan, sehingga dapat membantu perbaikan rumah warga dan fasilitas umum yang rusak akibat banjir dan longsor,” kata Ridwan.
Selain itu, personel Brimob juga akan melakukan pembersihan rumah-rumah warga dan lingkungan yang terdampak material lumpur dan sisa banjir.
Ridwan menambahkan, masa penugasan direncanakan berlangsung selama satu bulan, namun dapat diperpanjang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Personel akan bergabung dengan Satbrimob dari daerah lain. Apabila masih dibutuhkan, masa penugasan akan diperpanjang,” ujarnya.
Terpisah, Kabag Ops Satbrimob Polda Sulsel AKBP Nur Ichsan menyampaikan, bahwa personel diberangkatkan melalui jalur udara menuju Bandara Kualanamu, Medan, sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Aceh.
“Pasukan diberangkatkan pukul 16.30 Wita dan diperkirakan tiba di Bandara Kualanamu sekitar pukul 19.40 WIB. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju wilayah penugasan di Aceh,” katanya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 25 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera mencapai 1.135 orang.
BNPB mencatat korban meninggal terbanyak berasal dari Aceh Utara sebanyak 205 orang, diikuti Tapanuli Tengah sebanyak 191 orang, dan Tapanuli Selatan sebanyak 133 orang.
Terakhir, sebanyak 173 orang dilaporkan masih hilang, sementara 489.864 warga terpaksa mengungsi akibat bencana yang terjadi sejak akhir November 2025.
Editor: A.Cakra


