Bugissulsel

akurat dan terpercaya

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates






    Di Antara Sunyi dan Sabda: Ramadhan sebagai Nafas Kata dan Cahaya Makna Bahasa

    Bugissulsel.id
    18 Februari 2026, 19.51 WIB Last Updated 2026-02-18T11:54:16Z

    Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

    Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau

    Bugissulsel.id - Ramadhan hadir bukan hanya sebagai pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan sebagai musim jiwa. Ia turun seperti embun yang menyejukkan tanah kering, menyentuh relung batin yang lama berdebu oleh hiruk-pikuk dunia.

    Dalam keheningan sahur dan panjangnya senja menjelang berbuka, manusia diajak kembali mendengar sesuatu yang kerap terabaikan: suara hatinya sendiri.

    Dalam dunia bahasa, Ramadhan adalah jeda yang sarat makna. Ia mengajarkan bahwa kata tidak selalu harus diucapkan untuk menjadi berarti. Ada saat ketika diam lebih fasih daripada pidato panjang, ketika sunyi lebih jujur daripada seribu retorika. 

    Puasa melatih lisan untuk tidak tergesa-gesa, melatih pikiran untuk tidak liar, dan melatih hati agar tidak mudah menghakimi. Di sanalah bahasa menemukan akar etiknya.

    Bukankah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah seruan membaca? Dan bukankah Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai cahaya bagi semesta? Perintah membaca itu bukan sekadar ajakan mengenali huruf, melainkan undangan untuk menafsir kehidupan. 

    Ramadhan, dengan demikian, adalah bulan ketika manusia diajak membaca dirinya sendiri membaca luka, membaca salah, membaca harapan lalu menuliskannya kembali dalam bentuk amal dan kebaikan.

    Bahasa sejatinya adalah rumah bagi makna. Namun rumah itu kerap riuh oleh kata-kata yang kehilangan arah. Di luar Ramadhan, kita begitu mudah berbicara tanpa menimbang, menulis tanpa menyaring, berdebat tanpa memahami. 

    Ramadhan datang sebagai arsitek sunyi. Ia menata ulang ruang batin, membersihkan dinding-dinding kata dari prasangka dan amarah. Setiap ujaran diuji: apakah ia lahir dari keangkuhan atau dari kasih sayang?

    Dalam tradisi Melayu yang menjunjung tinggi adab, kata bukan sekadar bunyi, melainkan cermin marwah. Pantun dan peribahasa tidak hanya indah, tetapi juga mendidik. 

    Ramadhan menghidupkan kembali kehalusan itu. Ia menyuburkan bahasa yang santun, yang tidak melukai meski berbeda pandangan, yang tidak merendahkan meski memiliki kebenaran. Di tengah zaman digital yang serba cepat dan bising, Ramadhan adalah sekolah kesabaran berbahasa.

    Secara filosofis, puasa adalah latihan pengosongan diri. Tubuh dikurangi asupannya agar jiwa bertambah kekuatannya. Begitu pula bahasa: ketika kata-kata yang tidak perlu dikurangi, makna yang hakiki justru menguat. 

    Kita belajar bahwa tidak semua pikiran harus menjadi status, tidak semua emosi harus menjadi komentar. Dalam pengendalian itulah kebijaksanaan tumbuh.

    Ramadhan juga mengajarkan keseimbangan antara sabda dan sunyi. Sabda diperlukan untuk menasihati, menguatkan, dan menyebarkan kebaikan. Namun sunyi diperlukan untuk merenung, mengoreksi, dan mendengar bisikan nurani. 

    Bahasa yang dewasa lahir dari pertemuan keduanya. Ia tidak berlebihan, tetapi juga tidak membisu ketika kebenaran harus ditegakkan.

    Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan dari kata menuju makna. Ia mengajak manusia menyelami kedalaman ujaran, menimbang setiap diksi dengan nurani, dan menjadikan bahasa sebagai jalan mendekat kepada Ilahi. 

    Jika di luar Ramadhan kita sering berbicara untuk didengar, maka di dalam Ramadhan kita belajar berbicara agar dimengerti oleh hati-hati manusia dan, lebih dalam lagi, oleh Tuhan.

    Di antara sunyi dan sabda itulah Ramadhan berdenyut. Ia menjadi nafas bagi kata, cahaya bagi makna, dan penuntun bagi peradaban agar tetap berjalan di jalur kemuliaan.

    Laporan: Nursalim 
    Komentar

    Tampilkan

    • Di Antara Sunyi dan Sabda: Ramadhan sebagai Nafas Kata dan Cahaya Makna Bahasa
    • 0

    menu atas