Bugissulsel

akurat dan terpercaya

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates


    Ketika Mimpi Dijaga dengan Doa dan Perjuangan

    Bugissulsel.id
    14 Juli 2026, 21.45 WIB Last Updated 2026-07-14T13:49:36Z



    Oleh: Anjas Setiawan


    Batam - Ada sebuah keyakinan yang selalu saya pegang sejak kecil: "Gantungkan cita-citamu setinggi langit, lalu rendahkan hatimu sedalam samudra. Sebab hanya mereka yang tekun menimba ilmu yang akan menemukan mutiara kehidupan." Kalimat itulah yang menjadi kompas dalam setiap langkah perjalanan hidup saya.

    Saya bukan anak yang lahir dari keluarga berada. Saya tumbuh dalam keluarga petani yang hidup dalam kesederhanaan. Sejak kecil, saya terbiasa menyaksikan kedua orang tua berjuang tanpa mengenal lelah demi menghidupi keluarga. Tangan ayah yang kasar karena mencangkul sawah dan doa ibu yang tak pernah putus menjadi sekolah kehidupan pertama yang mengajarkan arti keteguhan.

    Dari mereka, saya belajar bahwa kemiskinan bukanlah kutukan, melainkan ujian yang dapat melahirkan pribadi yang tangguh. Orang tua saya memang tidak mampu mewariskan harta yang melimpah, tetapi mereka memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kejujuran, kerja keras, disiplin, serta keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

    Ketika sebagian orang melihat keterbatasan sebagai penghalang, saya justru melihatnya sebagai peluang untuk membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal asal-usul. Tidak ada latar belakang keluarga yang dapat membatasi seseorang untuk menjadi besar. Yang menentukan masa depan adalah keberanian mengambil langkah pertama dan keteguhan untuk terus berjalan meski jalan terasa berat.

    Perjalanan menuju gelar doktor bukanlah kisah tentang keberuntungan. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Ada malam-malam yang saya habiskan bersama buku, jurnal ilmiah, dan lembar demi lembar penelitian. Ada rasa lelah yang harus ditaklukkan, kegagalan yang harus diterima, serta air mata yang harus disembunyikan agar semangat tetap terjaga.

    Saya percaya bahwa hasil tidak pernah mengkhianati ikhtiar. Setiap halaman yang dibaca, setiap penelitian yang diselesaikan, dan setiap doa yang dipanjatkan merupakan batu bata yang perlahan menyusun bangunan kesuksesan.

    Bagi saya, belajar bukan sekadar mengejar ijazah atau gelar akademik. Belajar adalah proses mematangkan cara berpikir, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri agar kelak mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Gelar hanyalah penanda bahwa proses itu pernah dilalui, sedangkan nilai sejatinya terletak pada manfaat ilmu yang dapat diberikan kepada masyarakat.

    Dalam perjalanan panjang ini, ada dua sosok yang tidak pernah lepas dari doa saya: ayah dan ibu. Mereka mungkin tidak memahami teori-teori ilmiah yang saya pelajari, tetapi merekalah guru kehidupan yang mengajarkan makna ketulusan, kesabaran, dan pengorbanan. Tanpa mereka, saya tidak akan pernah sampai pada titik ini.

    Di samping itu, Allah SWT mempertemukan saya dengan seorang istri yang luar biasa. Ia bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga sahabat dalam perjuangan. Ketika saya hampir menyerah, ia mengingatkan kembali tujuan yang ingin dicapai. Ketika beban terasa berat, ia menjadi tempat berbagi kekuatan. Gelar doktor ini bukan hanya milik saya, melainkan juga buah dari kesabaran, dukungan, dan pengorbanannya.

    Hari ini, ketika nama saya disertai gelar doktor, saya tidak merasa telah mencapai garis akhir. Sebaliknya, saya merasa baru memasuki babak baru dengan tanggung jawab yang lebih besar. Gelar akademik bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah untuk mengabdi, menyebarkan ilmu, dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

    Kepada seluruh generasi muda Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana, saya ingin menyampaikan satu pesan: jangan pernah merasa kecil karena keadaan. Jangan biarkan keterbatasan membatasi cita-citamu. Langit tidak pernah bertanya siapa orang tuamu, tetapi perjuangan akan selalu mencatat siapa yang tidak pernah menyerah.

    Bermimpilah setinggi langit agar hidupmu memiliki arah. Belajarlah sedalam samudra agar engkau menemukan mutiara ilmu yang akan menerangi perjalanan hidupmu. Jangan takut gagal, sebab kegagalan hanyalah jeda sebelum Allah mempertemukanmu dengan keberhasilan yang lebih indah.

    Kini saya memahami bahwa perjalanan hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan tentang siapa yang tetap melangkah ketika orang lain memilih berhenti.

    Hari ini saya bersyukur kepada Allah SWT karena telah membuktikan satu hal yang sangat berharga: anak seorang petani pun mampu berdiri sejajar di dunia akademik selama ia menjaga mimpi, menguatkan ikhtiar, menghormati orang tua, dan tidak pernah berhenti belajar.

    Pada akhirnya, yang mengubah nasib bukanlah keadaan, melainkan keberanian untuk bermimpi, kesungguhan untuk berjuang, dan keyakinan bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan akan menemukan waktu terbaik untuk dikabulkan oleh Allah SWT.




    Laporan: Nursalim Turatea 
    Publikasi: A.Cakra
    Komentar

    Tampilkan

    • Ketika Mimpi Dijaga dengan Doa dan Perjuangan
    • 0

    menu atas