Bugissulsel

akurat dan terpercaya

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates






    Merajut Kemandirian Kader melalui Gagasan dan Keteladanan

    Bugissulsel.id
    28 Februari 2026, 15.02 WIB Last Updated 2026-02-28T07:05:24Z


    Oleh: ABDUL RACHMAN SAPPARA
    (Pengurus Majelis Nasional KAHMI)

    Bugissulsel.id - Momentum buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Majelis Nasional KAHMI di Kantor Kementerian Hukum Republik Indonesia pada Senin, 23 Februari 2026, bukan sekadar pertemuan seremonial dalam balutan suasana Ramadan.

    Di bawah kehangatan silaturahmi dan keberkahan bulan suci, pertemuan itu menjelma menjadi ruang kontemplasi kebangsaan sebuah panggung refleksi tentang peran kader, alumni, dan intelektual Muslim dalam menjawab tantangan zaman.

    Sebagai shohibul bait, Supratman Andi Agtas selaku Menteri Hukum Republik Indonesia menghadirkan keteladanan yang sederhana namun menggetarkan. 

    Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kemandirian kader Himpunan Mahasiswa Islam di segala sektor kehidupan. 

    Kemandirian itu, menurut beliau, tidak harus selalu dimaknai dalam bingkai jabatan atau posisi struktural, melainkan pada keberanian untuk berdiri tegak dalam sektor apapun, termasuk menjadi petani.

    Pernyataan tersebut bukan retorika. Ia lahir dari pengalaman personal seorang anak petani yang menapaki tangga kehidupan hingga dipercaya memimpin kementerian strategis. 

    Pesan moralnya jelas: kemuliaan profesi tidak ditentukan oleh gengsi sosial, tetapi oleh nilai kejujuran, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. 

    Ketika seorang menteri dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai anak petani, yang diangkat menjadi Menteri Hukum RI, sesungguhnya ia sedang mengajarkan tentang akar, tentang identitas, dan tentang kesadaran sejarah diri.

    Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Fuad Bawazier, Abdullah Puteh selaku Koordinator Presidium MN KAHMI, serta Kamrussamad, Anggota DPR RI dan Ketua Umum BPP HIPKA. 

    Kehadiran para tokoh ini semakin menegaskan bahwa KAHMI bukan sekadar wadah nostalgia alumni, melainkan ruang dialektika gagasan yang terus hidup dan bergerak mengikuti denyut nadi bangsa.

    Namun, yang paling penting dari seluruh rangkaian acara itu adalah satu pesan fundamental: kader HMI memerlukan gagasan. Gagasan bukan sekadar opini spontan atau wacana tanpa arah. 

    Ia adalah hasil perenungan mendalam, sintesis pengalaman, serta keberanian intelektual untuk menawarkan solusi. Gagasan lahir dari proses kreatif yang jujur, dari kegelisahan yang dikelola menjadi energi perubahan.

    Dalam konteks kebangsaan hari ini, kemandirian kader harus dimulai dari kemandirian berpikir. Tanpa gagasan, kader hanya akan menjadi penonton sejarah. Dengan gagasan, kader menjadi pelaku perubahan. 

    Gagasan yang kuat akan melahirkan karya; karya yang konsisten akan melahirkan prestasi; dan prestasi yang berkelanjutan akan membentuk peradaban.

    Buka puasa bersama di kantor Kementerian Hukum RI itu sejatinya menjadi simbol bahwa kekuatan alumni HMI tersebar di berbagai lini strategis bangsa. Namun kekuatan itu tidak boleh berhenti pada posisi. 

    Ia harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi rakyat. Jika seorang anak petani bisa menjadi Menteri Hukum, maka setiap kader memiliki peluang yang sama untuk berkiprah, asalkan dibekali gagasan, integritas, dan keberanian.

    Ramadan mengajarkan kita tentang pengendalian diri dan kejernihan hati. Dari hati yang jernih lahir pikiran yang bening; dari pikiran yang bening lahir gagasan yang mencerahkan. 

    Inilah fondasi yang sangat diperlukan kader HMI hari ini: keberanian memulai, keteguhan berproses, dan kesungguhan berprestasi.

    Sebagai bagian dari keluarga besar Majelis Nasional KAHMI, saya meyakini bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh kualitas gagasan para intelektualnya. 

    Maka mari kita jadikan setiap pertemuan bukan sekadar silaturahmi, tetapi ladang lahirnya ide-ide besar. Karena pada akhirnya, sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani berpikir, berani memulai, dan berani memberi makna.

    Laporan: Nursalim Turatea

    Komentar

    Tampilkan

    • Merajut Kemandirian Kader melalui Gagasan dan Keteladanan
    • 0

    menu atas