Soppeng, Bugissulsel.id – Sejumlah petani jagung di Kelurahan Jennae, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng dilaporkan mengalami gagal panen atau puso.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani karena berdampak langsung pada pendapatan dan ketahanan pangan keluarga mereka.
Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Soppeng, Aryadin Arif, angkat bicara.
Ia mengungkapkan bahwa kegagalan panen tidak hanya terjadi di Jennae, tetapi juga melanda beberapa wilayah lain di Soppeng, baik pada komoditas jagung maupun padi.
Menurut Aryadin, penyebab utama puso kali ini adalah terjadinya anomali atau perubahan cuaca ekstrem.
Ia menjelaskan bahwa pada periode musim tanam Oktober hingga Maret, khususnya Januari dan Februari, seharusnya wilayah Soppeng berada pada puncak musm hujan dengan intensitas curah hujan tinggi. Namun kenyataannya, kondisi tersebut tidak terjadi.
“Iye… terjadix beberapa puso atau gagal panen baik jagung maupun padi di beberapa wilayah di Kabupaten Soppeng. Salah satu penyebab paling dominan adalah terjadinya anomali cuaca. Yang seharusnya pada Januari-Februari intensitas hujan tinggi, tapi justru curah hujan sangat rendah, sehingga terjadi kekeringan,” jelas Aryadin kepada Bugissulsel melalui pesan WhatsApp, Rabu (18/2).
Dia menambahkan, kekurangan air ini sangat berdampak pada tanaman yang saat ini berda pada fase vegetatif dan mulai memasuki fase premordia, yakni fase krusial dalam pembentukan tongkol atau malai.
Akibatnya, kata Aryadin, pertumbuhan tanaman terganggu dan produksi tidak maksimal, bahkan banyak yang gagal total.
Sebagai langkah tindak lanjut, Aryadin memastikan pihaknya akan segera melakukan pendataan terhadap wilayah-wilayah yang masuk kategori puso.
Data tersebut nantinya, lanjut dia, akan menjadi dasar pengusulan bantuan benih kepada pemerintah untuk membantu petani bangkit dari kerugian.
“Olehnya itu kami dari Dinas TPHPKP akan melakukan pendataan wilayah yang masuk kategori puso atau (gagal panen), untuk selanjutnya diusulkan mendapatkan bantuan benih,” ujarnya.
Saat ditanya terkait kemungkinan pergantian benih bagi petani terdampak, Aryadin mengatakan bahwa pihaknya akan menurunkan Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) guna memastikan kondisi di lapangan.
“Iye… kalau betul nanti turun tim POPT dan hasilnya dinyatakan puso, maka akan segera dilakukan pengusulan bantuan benih jagung,” tambahnya.
Terkait jadwal penurunan tim, Aryadin menyebutkan bahwa pihaknya berencana melakukan pengecekan lapangan dalam waktu dekat, bahkan bisa dilakukan hari ini atau paling lambat besok.
“Iye… rencana hari ini atau besok,” singkatnya.
Diberitakan sebelumnya, Sejumlah petani jagung di Kelurahan Jennae, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, mengeluhkan gagal panen yang terjadi akibat musim kemarau berkepanjangan.
Warga menyebut, minimnya curah hujan menyebabkan sebagian besar tanaman jagung tidak tumbuh optimal.
Bahkan, sejumlah lahan dilaporkan mengalami puso karena tanaman mengering sebelum berbuah.
Seorang petani yang enggan disebut namanya mengungkapkan, kondisi tersebut mebuat hasil panen anjlok drastis dibanding musim tanam sebelumnya.
“Terbatas uwaide karena idi kuhe masih tergantung ki ku bosi’e. Mega taneng relle gagal panen, sementara ongkos tanamna terlanjur messuni. (Air sangat terbatas karena kami masih mengandalkan hujan. Banyak jagung mati, sementara biaya tanam sudah terlanjur keluar),” katanya dengan Bahasa Bugis, Selasa (17/2).
Penulis: A.Cakra |


